Demam Film “Ayat-ayat Cinta” dan ” Fitna”

Demam Film “Ayat-ayat Cinta” dan ” Fitna”Ada dua peristiwa yang saat ini kiranya dianggap oleh kebanyakan orang sangat menarik; baik untuk diperbincangkan, ditulisakan di blog/situs dan dikomentari.

1. Fenomena Film “Ayat-ayat Cinta”

2. Fenomena Film “Fitna”

Untuk fenomena pertama sudah banyak orang yang menulis, meresensi, mengomentari, mendiskusikan, mengkrtik, memuji, mencela, mencurigai an so un soun. Prediksi Saya perbincangan tema ini masih akan terus berlangung samapai paling tidak 3 bulan mendatang. Kesuksesan Film ini membuat banyak orang yang mengapresiasi dengan berbagai bentuk dan dan berbagai sikap. Komersialisasi dalam dunia hiburan adalah wajib, dan film ini adalah perwujadan sempurna dengan mendatangkan keuntungan yang fantastis bermilyar-milyar mulai dari penjualan tiket bioskop, dvd, lagu, pembelian hak cipta (royalti) oleh beberapa konsumen luar negri de el el. Info tentang Fenomena film ini bisa di cari dan di baca di Internet misal di situs ruang film dan milis-milis perfilman. Film ini pun membuat penulisanya makin terkenal dan mendapatkan royalti yang besar, seingat Saya pernah baca, Pak Habiburahman tetap hidup sederhana dan menggunakan uang yang didapat dari pembelian royalti bukunya untuk dijadikan film untuk membangun dan membesarkan pesantren. Nice guy. Salut. Untuk Industri perfilman dan persinetronan, agaknya film ini akan menjadi inspirasi untuk meraup keuntungan yang luar biasa, dan sekali lagi akan menajadi trend. Dan dengar-dengar filam Ayat-ayat cinta akan dibuat lagi dengan supaya lebih “mirip” dibuku, dan ini sih biasaya memang seperti itu di Indoensia kalo ada film atau sinetron yang sukses. Lebih dari itu, fim ini juga mendapat perhatian dari tokoh-tokoh penting negara ini, bahkan Presiden SBY mengundang para Dubes untuk menonton film ini. Semuanya “demam” fim ini.

Untuk yang kedua, sebebanrya informasi film “Fitna” yang saat ini tengah heboh dan filmuya dapat dengan mudah di download dari Internet lebih dulu tersebar dikalangan rakyat Belanda beberapa bulan lalu. Dan kalo ada yang pernah meneluri pastilah sudah tahu wacana pro dan kontra yang berlangsung di negri Belanda sendiri. Dan setahu Saya yang surfing di milis-mili sebagian besar rakyat Belanda juga tidak menginginkan dan berusaha menghentikan proses pembuatan film itu. Hampir 85% rakyat beland menolaknya. Saya sendiri heran juga kenapa film ini akhirnya lolos dan beredar juga bahkan dapat dengan mudah di download.??? Seperti halnya film ayat-ayat Cinta, Fitna juga sisi lain dari kehendak jaman. Sebagain besar umat Islam pastilah marah, sedih, dan pilu ketika menonton film ini. Sesuai dengan tampilan kata yang pertama dalam film memeng benar-benar membuat shock , jantung hampir copt, kok bisa-bisanya ada orang yang berpendangan bahwa islam adalah agama yang menyiarkan kebencian, dendam dan pembunuhan. Keep smile Gus , kadang hati bertanya juga, andaikata rasululloh masih hidup, apa ya kira-kira komentar beliau? Dalam sejarah Nabi, Rosululoh sepenjang hidupnya penuh dengan penderitaan, celaan, penghinaan, dan sebagainya. Tapi yang membuatku tenang dalam diri rasulollah ada teladan yang baik. Aku juga Cinta Rasul. tapi maafkan bila Aku hanya bisa berkata dalam hati, dan mencoba untuk sabar, tenang dan tersenyum.

“Memang sudah jamannya…gus, kamu kok ya ikut-ikut nulis tema ini sih gus…???”

“Gus… kamu gak pulang malam ini, kasian si Mbah di rumah sendirian…!!!”

5 Komentar »

  1. Ucok said

    Cobalah untuk berpikir lagi…sejauh ini umat islam paling banyak menerima hujatan di media. Kenapa? karena memang para teroris itu mengatas namakan ISLAM sebagai dasar tindakan keji yg mereka lakukan. Artinya, memang teroris itulah yg menyebarkan “religi baru” yg menyimpang dari Islam. Apa yg diperbuat masyarakat muslim terhadap para teroris ini? Mereka diam…, beberapa malah ikut belajar kepada “penghujat” mereka dengan dalih “Jihad”.

    Langkah kongkrit apa yg bisa dilakukan umat islam? Kirim pasukan jihad ke sarang Osama Bin Laden dan memaksa mereka untuk tidak lagi berbuat teror yang mengatas namakan Islam. Kalau mau mengatas namakan anak bininya sendiri ya monggo…asal jangan Islam!

    Apa yg bisa kita lakukan secara nyata? Budayakan bahasa “surgawi” dan jangan pernah mengatas namakan Islam ketika anda ingin melakukan sesuatu yg keji; contoh: Jangan teriakkan “Allahu Akhbar” ketika anda akan merusak rumah bordil…karena belum tentu Allah SWT me-ridhoi tindakanmu itu dan tindakanmu telah “mengecilkan” nama Allah yang kamu sebut “Akhbar” (maha besar).

    Perhatikan selalu hal-hal kecil yg selama ini menjadi “doktrin” tindakan kekerasan di dalam Islam.

  2. Ucok said

    Oh ya, mengenai pak Habiburahman; tentu saja dia tetap hidup dalam kesedehanaan karena “Royalti” yang beliau terima teramat kecil untuk membuat perubahan “besar” dalam hidupnya.

    Supaya anda semua ketahui, bermilyar-milyar uang akan masuk ke:
    – Produser
    – Investor
    – Mitra Promosi
    – dst..dst dan
    – terakhir (persentasi sisa setelah dipotong semuanya) baru ada royalti….

  3. amdulgani said

    Mungkin kita juga harus mawas diri apakah bentuk kekerasan itu berada pada agama yang kita anut, mungkin dalam hati kita akan berkata tidak tapi apakah betul demikian ? trus mungkinkah ada kekerasan kecil-kecilan yang kita lakukan tetapi hal tersebut tidak kita sadari atau malah kita anggap yang yang baik. Kita ambil contoh (maaf) di Masjid kalau subuh selalu kita pasang pengeras suara yang keras-keras diasaat orang yang membutuhkan istirahat sedang tidur (karena sakit atau memang dia bukan muslim) mengganggu semacam ini adalah salah satu bentuk ketidaknyamanan yang kita lakukan pada tetangga kita tapi kita merasa hal tersebut adalah Siar Islam. Coba kita tanya pada diri kita sendiri kalau kita sedang enak-enaknya tidur terus ada suara keras dan teriak-teriak apa kita juga nyaman. ini salah satu bentuk ketidak toleransian kita pada pemeluk lain. Trus kemudian kalau kita sedang puasa pemeluk lain dilarang berjualan siang hari, bahkan banyak organisasi massa Islam yang sweeping. ini menunjukkan kalau kaum muslim maunya ditolerasiin tapi tidak mau toleransi kepada pemeluk agama lain.
    Mari kalau umat Islam memang mau orang lain bertoleransi, umat Islam juga harus mau bertoleransi, tapi mau nggak mulai sekarang pengeras suara di masjid-masjid jangan mengganggu orang lain ?
    Semoga ini bisa menjadi bahan perenungan

  4. eMo said

    belom nonton fitna :-s

  5. […] 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 […]

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: