Akulturasi kemiskinan Petani

Beberapa hari lalu Saya berdiskusi dengan teman-teman yang masih mahasiswa (adik mahasiswa karena angkatannya lebih muda sedang Saya belum lulus juga…hehe stress). Wow, temanya tentang kemiskinan di Indonesia. Jumlah rakya miskin yang tiap tajun meningkat menjadi keprihatinan kami semua. Kesenjangan sosial yang makin tinggi di Indoensia menyebabkan kemiskinan bukan saja persoalan Individu yang tidak bisa makan atau kelaparan tapi sudah sampai pada persoalan budaya dan peradaban umat manusia.

Di sela-sela perdebatan yang sengit itulah saya menciptakan istilah “Akulturasi kemiskinan“. Mengapa, karena kemiskinan sudah masuk dalam sebuah proses sosial. Secara sosiologis, kemiskinan yang ada tidak terlepas dari faktor interaksi sosial. Yang terjadi adalah sebuah kemiskinan struktural yang turun temurun dan proses pemiskinan oleh interaksi kapital. Alhasil, rakyat kita kebanyakan susah sekali untuk terangkat dari derajat kemiskinannya. Walaupun sudah banyak rakyat miskin yang pintar dan lulus perguruan tinggi tapi meraka tidak mampu bersaing dengan dunia sosial saat ini (posmodernis). Terpaksa dan dipaksa untuk selalu kalah (miskin).

Akar Kemiskinan ini tentunya ada beberapa faktor :

1. Tingkat pendidikan rakyat yang rendah

2. Pendapatan yang rendah karena pekerjaan yang rendah

3. Peran negara sebagai agen distribusi kesejahteraan telah gagal

4. Penetrasi kekuatan global (kaptitalisme)

5. Kebudayaan masyarakat setempat (malas)

6. Takdir (nasib)🙂

Dan, proses kemiskinan dan pemiskinan tersebut terus berlangsung tanpa ada yang menghentikan. Yang paling memprihatinkan adalah terjadinya akulturasi kemiskinan petani dimana petani terpaksa dan dipaksa untuk selalu miskin.

Tingkat kemiskinan rakyat Indonesia mananjak drastis, dari sekitar 22,5 juta jiwa (11,3%) menjadi 49,5 juta jiwa (24,2%) atau bertambah sebanyak 27,0 juta jiwa (BPS, 1999). Jelaslah bahwa pemerintah pasca reformasi belum mampu memberikan peranan yang signifikan terhadap usaha-usaha pengentasan kemiskinan. Peranan negara sebagai “pendistribusi kesejahteraan” nyaris terlupakan oleh agenda-agenda kepentingan politik sesaat dan situasi geo politik global.

Berbicara kemiskinan dan pemiskinan di Indonesia sangat rentan kepentingan politik, alih-alih untuk memberdayakan kegiatan ekonomi mikro, kemiskinan kadang dijadikan komoditas politik dan lahan korupsi. Sebagai contoh adalah program jaring pengaman sosial, kompensasi bbm, konversi minyak ke gas, dan lain sebagainya.

Celakanya, gerakan melawan kemiskinan hanya terpampasng pada poster, pamflet, spanduk seminar-seminar, brosur, tak lebih dari itu. kalopun ada usaha pemberdayaan masyrakat miskin (misal petani miskin), kadangkala hanya dijadikan obyek dan ujung-ujungnya petani itu sendiri yang menjadi korban. Petani disuruh memperkuat ketahanan pangan tetapi disisi lain tidak ada kebijakan pertanian yang membantu petani (subsidi untuk petani miskin dikuragi). Jadi, sebenarnya kalo petani terpaksa dan dipaksa untuk selalu “berkubang” dalam lumpur sawah yang sempit bersama mutiara kuning yang ‘miskin’ pengharagaan.

ILO (lembaga PBB), memperkirakan jumlah orang miskin mencapai 129,6 juta jiwa atau sekitar 63,3% dari keseluruhan penduduk Indonesia. Begitu banyaknya jumlah rakyat miskin di Indonesia tentu saja membuat kita semua prihatin dan sedih. Betapa tidak diantara maraknya pembangunan hyper market, super mall, gaya hidup modernis dan matrealistis, banyak rakyat sengsara dan kelaparan.

Kontradiksi hasil-hasil pembagunan dan reforamsi, memberikan gambaran pada kita bahwa kita sudah tak mengenal lagi yang namanya “Indonesia” yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat nya. Yang ada keadailan ‘personal’ bagi yang bermodal dan berkuasa.

Dan, korupsi menjadi duri dalam daging, hukum belum mampu berbuat banyak. Barangkali benar kata orang, dosa sosial itu lebih ringan hukumannya ketimbang dosa susila. Kalau ada anggota DPR yang berselingkuh, berbuat tak senonoh, maka diapstikan si anggota Dewan itu akan malu luar biasa, dan tak berani tampil di publik, sebentar kemudian dia akan menghilang dari peredaran dan sembunyi entah kemana. Tetapi kalo ada yang korupsi (dosa sosial), mereka tenang2 saja dan tak merasa malu, bahkan melambai-lambaikan tangan bak artis ketika ditayangkan di televisi. Padahal, ketika melakukan korupsi, yang menjadi koraban adalah rakyat banyak; pendidikan terhambat, pembangunan infrastruktur terbengkalai, meniadakan jaminan kesehatan bagi rakyat, banyak anak putus sekolah, dll.

Akhirnya, kita semua berharap seperti pertanyaan sang seniman: Tuhan, mengapa tidak Kau saja yang menjadi Presiden?…”Aku lebih tau daripada apa yang kau ketahui. Astagfirullah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: