Om, kok masih kuliah seh?

Beginilah nasib kalo kuliah gak niat. Hmpir empatbelas semester belum juga kelar. Kadang punya pikiran juga untuk cuti atau bahkan sekalian saja keluar. Tapi…saya gak punya keberanian untuk itu, alasannya bisaa ‘sudah tanggung’. Lagian juga sudah banyak yang keluar, kasihan orang tua (apologi), dan yang pasti waktu saudah terbuang percuma.

Kalo saya perhatikan penyebab banyaknya mahasiswa yang telat lulus adalah karena kemalasan bukan karena kebodohan. Orang pintar itu kalah dengan orang rajin dan orang rajin kalah dengan orang cerdas yang rajin, jadi yang ideal ya jadi oarang cerdas dan rajin. Mengenai kecerdasan, itu bisa di asah toh ibarat pisau kalo tidak pernah digunakan dan di asah akan tumpul plus karatan begitu juga dengan otak2 mahasiswa yang modelnya seperti saya, sudah malas gak pernah belajar lagi.

Memang penyesalan dan pertobatan selalu datang terlambat. Tapi ada ungkapan lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali (ini apologi ke dua). Terus terang memang kultur dan mental Saya tidak sehebat orang2 jaman dahalu yang bekerja keras siang dan malam. Mereka para nenek-kake buyut kita terkenal karena keuletan dan kerja kerasnya. Mereka telah mengisi kehidupannya dengan berkarya, belajar dan bekerja. Meraka telah menjadi ‘master’ dalam bidangnya sendiri-sendiri.

Tak perlu di tanyakan buktinya, lihat saja disekililing kita, banyak teladan dan sosok yang penuh semangat menjalani hidup.Di pasar-pasar tradisonal kita seringkali menemukan sosok-sosk ini, mereka dalah pekerja yang giat dan rajin, ada bakul jamu, ada petani, ada pedangan sayuran, tukang bakso dan masih banyak lagi. Tapi kalo ditanya soal kekayaan metril, masih sedikit para master itu yang miskin harta. Bukan karena para master itu tak pemboros dan tak pernah menabung, tapi lebih karena tidak adanya keadilan ekonomi. Meraka kalah oleh persaingan global. Ah kasihan sekali, para empu itu kalah hanya karena tidak bisa komputer, tidak bisa bahasa inggris, tidak bisa..bla,.2 lebih parah lagi tidak bisa kaya karena di tipu, ditindas, dieksploitasi.

Harusanya mereka mengeluh! tapi meraka ‘pasrah’nrimo’sabar. Hmm, memang untuk mencapai tingkat master-master kehidupan perlu kesabaran dan keiklasan. Jadi Saya pun begitu, perlu juga sabar menuggu diluluskan (apologi 3)

Ya, sudahlah, hidup orang kan sawang sinawang, saling pandang. Orang yang lahir kembar pun, jalan hidupnya berbeda. Jalani saja. Jangan berhenti untuk mengeluh siapa tau da yang para dosen kasihan sehingga cepat dilulukan. Memangnya mau tua di kampus apa?

Susah memang kalo orang malas, bodoh ama miskin punya cita2 tinggi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: