Arsip untuk Desember, 2007

I……buuu……….

Ribuan kilo, jalan yang kau tempuh

Lewati rintang demi aku anakmu

Ibuku sayang, masih terus berjalan

Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

 

Seperti udara, kasih yang engkau berikan

Tak mampu kumembalas

Ibu..

 

(Ibu/Iwan “Fals)

“Gus, Ibunda mo berpesan padamu, ingat ini baik2 ya!!”

“Apa bunda”

“Cepetlah lulus, bekerja, berkarya, dan menikahlah, bunda sudah lelah dan tua”

“……” (selamat hari ibu) “dalam hatiku”

Tanggapan (1)

Belajar WordPress

Hmm, ngutak ngatik wordpress menyenangkan juga. Banyak yang belum Saya bisa, tapi mudah2an seiring waktu bisa jadi ahli, hehehehe, kan banyak tutorial gratisnya di Internet.

Tinggalkan sebuah Komentar

Bingung, mo apa ya?

Kegelisahan manusia abad ini adalah kebingungan, ya, bingung. Saat ini semua serba cepat dan instan, dan semuanya tersedia. Kalo mo apa saja sudah tersedia, mo jasa apalagi berupa barang, mo hiburan atau info, semuanya juga tersedia. So, terus mo apa lagi ya?

Jadinya, saya juga termsuk dalam orang2 bingung menyikapai perkamangan jaman, jiwa dan raga kayaknya kok gak klop dengan kondisi jaman saat ini. Barangkali memang termasuk orang2 yang mengalah dengan keadaan, tak tahulah.

Tanggapan (1)

Tutur Pak Tani

 

KAMPANYE Penulisan budidaya pertanian!!

Sedikit sekali yang menulis tentang budaya agraris dalam format sastra. hari ini saya mendapatkan semangat untuk mengumpulkan dan menulis beberapa karya cerpen yang berbicara tentang dunia pertanian.

Ada teman yang sudah memulai penulisan cerita tentang pertanian dengan judul : Mencintai Tanaman. Hmm, menarik juga ketika saya membaca sekilas tentang karyanya. Agak ilmiah memang, karena isinya menceritakan bagaimana cara manenam pohon. Persis mata kuliah jurusan agronomi. Heheheh. But, Saya salut juga dengan kepedulian dia terhadap wacana dan cerpen anak-anak yang kebanyakan tiak mendidik yang sebanarnya konsumsi orang tua, Tapi mereka terpaksa membacanya karena jarang ada cerpen menarik yang berbicara tantang dunia anak2. Saya juga menambahkan keprihatian terhadap sinetron indoensia yang makin tak bermutu dan tak lokalis. Tentu saja yang semua sudah tau sinetron Indoensia banyak yang ‘tidak masuk akal.

Hmm, tepai menarik juga ketika saya membaca sebuah harian The Epoch Times, yang muat sebuah cerpen/dongeng yang berbicara tantang petani dan tanamannya, buah apel. petani tersebut membeli biji apel dari seorang kakek karena iba, lalu ia tanam dan rawat sehingga tumbuh besar dan berbuah lebat. Ketika ingin di panan buah apel tersebut di makan kelelwar, burung dsb. sedihlah pak tani itu. Berselang lama kemudian, lahannya telah di penuhi oleh pohon apel dimana-mana, jumlahnya lebih dari 5 pohon (dulu ia mendapatkan lima biji dari kakek tua), sekarang lahanya tumbuh apel yang berbuah besar dan lebat, lebih lebat dari buah pertama kali. Sebab apa, ternanyata burung, kelewar, dan binatang lain yang memakan apel tersebut telah menyebarkan biji-biji apel, hingga jadilah pohon-pohon apel di mana-mana.

Saya jadi teringat nasib buah jambu biji di daerah selarong bantul yogyakarta. Di goa selarong itu dulunya banayak ditumbuhi oleh pohon jambu biji, tetapi saat ini hampir tidak ada (terancam punah), pasalnay dulu banyak kelelwar di sana tetapi akibat pembangunan kawasan wisata yang kurang emperhitungkan aspek ekologi, kelewar itu punah (hilang–mungkin pindah) dan tamatlah riwayat pohon jambu biji selarong yang terkenal itu.

Tinggalkan sebuah Komentar

Akulturasi kemiskinan Petani

Beberapa hari lalu Saya berdiskusi dengan teman-teman yang masih mahasiswa (adik mahasiswa karena angkatannya lebih muda sedang Saya belum lulus juga…hehe stress). Wow, temanya tentang kemiskinan di Indonesia. Jumlah rakya miskin yang tiap tajun meningkat menjadi keprihatinan kami semua. Kesenjangan sosial yang makin tinggi di Indoensia menyebabkan kemiskinan bukan saja persoalan Individu yang tidak bisa makan atau kelaparan tapi sudah sampai pada persoalan budaya dan peradaban umat manusia.

Di sela-sela perdebatan yang sengit itulah saya menciptakan istilah “Akulturasi kemiskinan“. Mengapa, karena kemiskinan sudah masuk dalam sebuah proses sosial. Secara sosiologis, kemiskinan yang ada tidak terlepas dari faktor interaksi sosial. Yang terjadi adalah sebuah kemiskinan struktural yang turun temurun dan proses pemiskinan oleh interaksi kapital. Alhasil, rakyat kita kebanyakan susah sekali untuk terangkat dari derajat kemiskinannya. Walaupun sudah banyak rakyat miskin yang pintar dan lulus perguruan tinggi tapi meraka tidak mampu bersaing dengan dunia sosial saat ini (posmodernis). Terpaksa dan dipaksa untuk selalu kalah (miskin).

Akar Kemiskinan ini tentunya ada beberapa faktor :

1. Tingkat pendidikan rakyat yang rendah

2. Pendapatan yang rendah karena pekerjaan yang rendah

3. Peran negara sebagai agen distribusi kesejahteraan telah gagal

4. Penetrasi kekuatan global (kaptitalisme)

5. Kebudayaan masyarakat setempat (malas)

6. Takdir (nasib) :-)

Dan, proses kemiskinan dan pemiskinan tersebut terus berlangsung tanpa ada yang menghentikan. Yang paling memprihatinkan adalah terjadinya akulturasi kemiskinan petani dimana petani terpaksa dan dipaksa untuk selalu miskin.

Tingkat kemiskinan rakyat Indonesia mananjak drastis, dari sekitar 22,5 juta jiwa (11,3%) menjadi 49,5 juta jiwa (24,2%) atau bertambah sebanyak 27,0 juta jiwa (BPS, 1999). Jelaslah bahwa pemerintah pasca reformasi belum mampu memberikan peranan yang signifikan terhadap usaha-usaha pengentasan kemiskinan. Peranan negara sebagai “pendistribusi kesejahteraan” nyaris terlupakan oleh agenda-agenda kepentingan politik sesaat dan situasi geo politik global.

Berbicara kemiskinan dan pemiskinan di Indonesia sangat rentan kepentingan politik, alih-alih untuk memberdayakan kegiatan ekonomi mikro, kemiskinan kadang dijadikan komoditas politik dan lahan korupsi. Sebagai contoh adalah program jaring pengaman sosial, kompensasi bbm, konversi minyak ke gas, dan lain sebagainya.

Celakanya, gerakan melawan kemiskinan hanya terpampasng pada poster, pamflet, spanduk seminar-seminar, brosur, tak lebih dari itu. kalopun ada usaha pemberdayaan masyrakat miskin (misal petani miskin), kadangkala hanya dijadikan obyek dan ujung-ujungnya petani itu sendiri yang menjadi korban. Petani disuruh memperkuat ketahanan pangan tetapi disisi lain tidak ada kebijakan pertanian yang membantu petani (subsidi untuk petani miskin dikuragi). Jadi, sebenarnya kalo petani terpaksa dan dipaksa untuk selalu “berkubang” dalam lumpur sawah yang sempit bersama mutiara kuning yang ‘miskin’ pengharagaan.

ILO (lembaga PBB), memperkirakan jumlah orang miskin mencapai 129,6 juta jiwa atau sekitar 63,3% dari keseluruhan penduduk Indonesia. Begitu banyaknya jumlah rakyat miskin di Indonesia tentu saja membuat kita semua prihatin dan sedih. Betapa tidak diantara maraknya pembangunan hyper market, super mall, gaya hidup modernis dan matrealistis, banyak rakyat sengsara dan kelaparan.

Kontradiksi hasil-hasil pembagunan dan reforamsi, memberikan gambaran pada kita bahwa kita sudah tak mengenal lagi yang namanya “Indonesia” yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat nya. Yang ada keadailan ‘personal’ bagi yang bermodal dan berkuasa.

Dan, korupsi menjadi duri dalam daging, hukum belum mampu berbuat banyak. Barangkali benar kata orang, dosa sosial itu lebih ringan hukumannya ketimbang dosa susila. Kalau ada anggota DPR yang berselingkuh, berbuat tak senonoh, maka diapstikan si anggota Dewan itu akan malu luar biasa, dan tak berani tampil di publik, sebentar kemudian dia akan menghilang dari peredaran dan sembunyi entah kemana. Tetapi kalo ada yang korupsi (dosa sosial), mereka tenang2 saja dan tak merasa malu, bahkan melambai-lambaikan tangan bak artis ketika ditayangkan di televisi. Padahal, ketika melakukan korupsi, yang menjadi koraban adalah rakyat banyak; pendidikan terhambat, pembangunan infrastruktur terbengkalai, meniadakan jaminan kesehatan bagi rakyat, banyak anak putus sekolah, dll.

Akhirnya, kita semua berharap seperti pertanyaan sang seniman: Tuhan, mengapa tidak Kau saja yang menjadi Presiden?…”Aku lebih tau daripada apa yang kau ketahui. Astagfirullah.

Tinggalkan sebuah Komentar

Refleksi Hari HAM

Kemarin hari HAM, tepatnya 10 Desember. Ya,…sebagai sebuah refleksi menjelang akhir tahun, tampaknya penegakkan dan penghormatan Hak Asasi Manusia di Indonesia belum menampakkan kemajuan.

Penghormatan dan penegakkan Ham oleh bangsa kita agaknya menjadi satu hal yang mutlak, soalnya penilaian terhadap kualitas peradaban suatu bangsa saat in bukan terletak pada kecanggihan tehnologi atau kemegahan bangunan, melainkan dari proses humanisasi. Memperlakukan manusia sebagaimana manusia (humanisme) akan melahirkan tatanan demokrasi yang lebih egaliter dan adil. Jadi, ukuran keadaban suatu bangsa terintegarsi dalam suatu sistem yang memungkinkan manusia untuk memperlakukan sesamana secara adil, dan mengarahkan manusia untuk selalu amakai sisi ‘humanisme’ nya dalam interaksi sosial baik dengan sesamanaya dan juga dengan lingkungan.

Penghormatan pada humanitarianisme inilah yang acapkali terlupakan oleh sistem politik, hukum, dan ekonomi. Terjadinya pelanggaran HAM di akibat merosotnya egosentris ‘kemahamanusiaan’. Dimana suatu sistem dan pranata sosial yang bersifat negatif memaksa manusia untuk keluar dari kemanusian bahkan menajadi korbannya.

Mengenang dan menghormati para korban pelanggaran HAM, bukan sekedar mengenang eksistensialisnya (secara materi individual), tapi transendensi, bahwa mengenang Munir bukan saja terletak pada sosoknya yang penuh dedikasi memperjuangkan HAM tapi lebih dari itu mengenang Munir adalah mengenag humanismenya. Dan juga mengenag korban lainnya adalah mengenag sifa-sifat universalis tentang keadilan, kebantan, kasih sayang, dan cinta.

Akhirnya Selamat hari HAM, smoga Allah  membimbing kita semua. Amin.

Tinggalkan sebuah Komentar